Senin, 22 Mei 2017
RENUNGAN UNIT : Renungan Unit
RENUNGAN UNIT : Renungan Unit: Nas Bacaan : Roma 6:15-19 (T) Tema : Yesus Yang Bangkit Memberi Hidup Pokok Pikiran : 1. Pengorbanan Kristus (kematian da...
Kamis, 11 Mei 2017
Renungan Unit
Nas Bacaan : Roma 6:15-19 (T)
Tema : Yesus Yang Bangkit Memberi Hidup
Tema : Yesus Yang Bangkit Memberi Hidup
Pokok Pikiran :
1. Pengorbanan Kristus (kematian dan kebangkitan-Nya), telah menjadikan kita semua, orang-orang yang ditebus dan diselamatkan dan masuk dalam persekutuan hidup baru bersama Kristus. Itu hanya karena dan oleh Kasih Karunia Allah dan bukan oleh kekuatan diri sendiri. Manusia, apa dan siapapun dia adalah makhluk yang terbatas ( fana, berdosa dan tidak kekal ) dalam ruang dan waktu. ciri dari orang yang sudah diselamatkan, secara ideal maka hidupnya tidak lagi takluk dibawah kuasa dosa dengan segala kekuatannya sebagai hamba dosa, tetapi telah hidup di bawah kasih karunia Allah sebagai hamaba kebenaran.
2. Yesus telah melakukannya lebih dahulu bagi kehidupan kita semua dengan memeluk, merangkul, mengambilnya menjadi bagian hidup dan pengorban-Nya, kehidupan lama kita yang takluk pada kuasa dosa dengan melakukannya di kayu salib. Dan oleh kebangkitan-Nya, kita semua bangkit untuk hidup yang baru; hidup bukan lagi di bawah Hukum Taurat, tetapi di bawah Kasih Karunia Allah. Namun, dalam kenyataanya kita tidak dapat menafsirkan bahwa kita masih bergumul melawan kuasa dosa dengan segala dampak dan akibatnya, karena kita belum berpindah dari dunia ini ke dunia yang lain, tetapi justru di dunia inilah kita terpanggil membuktikan iman dan percaya kita, agar kalaupun kita belum mampu merubah dunia ini, paling kurang kita tidak dirubah oleh dunia ini. Sebab apa? Sebab dalam pergumulan melawan dosa, kita tidak lagi bergumul dan berjuang untuk mencari kemenangan tetapi kita berjuang dari kemenangan di dalam Tuhan menuju kemenangan yang sempurna bersama Tuhan. Sebab kita mesti mampu menunjukkan dalam seluruh totalitas hidup kita bagaimana hidup sebagai hamba kebenaran.
3. Hidup sebagai hamba Kebenaran bukan hanya sebatas status atau atribut belaka (sesuatu yang bersifat fisik semata) tetapi mesti terwujud dalam aksi, dalam gerak sebagai suatu yang dinamis, hidup-hidup, dalam setiap interaksi yang dibangun dengan sesama yang saling memberdayakan dan membebaskan dari perilaku-perilaku hidup yang membinasakan. Dalam kenyataannya masih ada orang yang terus hidup sebagai hamba dosa dan menaklukan hidupnya pada hal-hal yang hanya menguntungkan diri sendiri dan membiarkan orang lain menjadi korban. Banyak rumahtangga Kristen masih melakukan tindakan-tindakan kekerasan (antar suami-istri; orang tua-anak; antar saudara dan keluarga) sebab ada yang memposisikan dirinya sebagai yang berkuasa dan yang lain menjadi objek penderita (dikorbankan). Belum lagi berbagai perbuatan ketidakadilan lainnya yang membuat banyak menjadi korban di dalamnya. Hal-hal ini mesti menjadi musuh bersama untuk diperangi agar kualitas hidup sebagai hamba kebenaran karena pengorbanan Kristus, terus dijaga, dipelihara dan dihidupi. MArilah kita menjadi orang-orang Kristen yang mau dan terus hidup dalam kekudusan, dalam kebenaran, dalam cinta kasih sebagaimana Kristus telah lebih dulu mengasihi dan meyelamatkan hidup kita.
4. kembangkan terus nilai-nilai kehidupan yang baik untuk keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan bersama. Tuhan menolong!
aksi:
Pastoral pada anggota Unit yang mengalami KDRT
Sosialisasi Undang-Undang Stop KDRT
Langganan:
Postingan (Atom)